HOME
THE STORY
WE KAIND
COLLECTION
CONTACT
Login / Register Cart
0

THE CREATION OF BATIK TULIS

TOOL & EQUIPMENT
PROCESS OF MENCANTING
COLOR PROCESS
NATURAL FRAGRANCE
TOOLS & EQUIPMENT
KEREN or ANGLO
Keren atau disebut juga Anglo adalah alat pemanas tradisional yang dapat menampung wajan berisi malam, untuk kemudian dipanaskan sehingga mencair dan digunakan untuk mencanting.

Malam yang cair dapat dengan lancar keluar melalui cucuk canting dan meresap sempurna ke dalam kain. Maka, api diatas anglo harus tetap menyala agar malam tetap panas.

Anglo as known as Keren (Javanese Language) is a traditional stove which is used to melt the wax on a pan. Once it has been melted, the traditional beeswax is able to be used for mencanting and to keep on using the wax, Anglo has to be kept in moderate heat.
CANTING
Canting digunakan untuk menorehkan malam ke atas kain yang bertujuan agar saat pewarnaan, kain yang tertutup lapisan malam tidak terkena warna. Ada berbagai macam canting yang diperlukan dalam proses mencanting. Ada canting klowongan, canting isen, canting cecekan, canting tembokan dan ini bergantung pada lingkar ukuran pipa canting.

Canting dipegang dan digunakan dengan cara berbeda dari memegang pensil atau pulpen. Perbedaan itu disebabkan karena ujung cucuk canting berbentuk melengkung dan berpipa, sementara pensil atau pulpen berbentuk lurus. Dengan canting, malam cair yang berada di dalam wajan diambil sedikit demi sedikit dan ditorehkan pada kain.

Canting is used for the design phase where wax designs are applied to the fabric as It protects the selected, waxed areas of the fabric from being colored in the dying process.

There are some Canting which are used for its process, such as Canting Klowongan, Isen, Cecekan, Tembokan and others as it depends on the size of Canting’s metal cup. Holding Canting is not as the same as grabbing pen or pencil as because it is used for the heated wax to be drawn or dripped out of the canting spout onto the fabric.
MALAM
Malam untuk membatik terdiri atas malam lowong (warnanya kuning dan lebih lengket) yang digunakan untuk batik tulis pada kain katun, malam carik untuk batik tulis pada kain sutra dan malam cetak (berwarna coklat, bersifat kurang lengket) untuk batik cap.
Wax for Batik does have several types such as Lowong wax (Yellowish color and pliable) which used for batik tulis on cotton, Carik wax which used onto silk and brownish wax (Brown and less pliable) which used for Batik Cap.
PROCESS OF MENCANTING
PEMBUATAN MOTIF / MOTIF CREATION
Motif batik dibuat dengan pensil dan dapat berupa gambar-gambar yang bisa langsung decanting atau berupa garis geometris (Contoh: motif parang, maka yang dibuat hanya garis-garis diagonal). Motif bisa langsung digambarkan pada kain atau dicontoh dengan menggambar dari pola yang diletakan dibawah kain.

Motif is able to be made with pencil and can be directly drawn by canting. For example, Parang Ayu (Batik Tulis Motif) can be drawn by creating diagonals lines onto the fabric or tracing from a finished model of motif which is put under the fabric.
PROSES MENCANTING / THE PROCEDURE of MENCANTING
Dari motif yang sudah dibuat dengan pensil tadi, pembatik membuat kerangka dengan menggunakan malam cair. Canting yang dipergunakan adalah Canting Klowongan. Kain yang sudah dibatik secara penuh akan memunculkan gambar berupa kerangka, disebut juga sebagai klowongan.

Ngiseni berasal dari kata isi, yaitu memberi isi atau mengisi klowongan dengan mempergunakan canting isen. Setelah selesai, keseluruhan motif yang dikehendaki bisa terlihat.
It starts by using the heated wax to be drawn or dripped out of the Canting Klowongan spout onto the fabric and being continued on Ngiseni which means to fill out the motif or Klowongan, by using Canting Isen. Once it is finished, the whole motif will be visible.
';
NEMBOKI
Dilanjutkan dengan nemboki menggunakan Canting Tembokan yaitu untuk menutup bagian-bagian yang tidak dikehendaki untuk diwarna.
It continues by using Canting Tembokan to do Nemboki which means to protects the selected, waxed areas of the fabric from being colored in the dying process.
PEWARNA ALAMI / NATURAL COLORATION
We Only Use Natural Material From Earth For Coloring Process
KaIND has been growing plants ourselves in order to preserve the nature and to keep on a high quality products by our nurtured natural resources.
Bixa Orellana
Bixa Orellana adalah salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai zat pewarna alam. Sumber dari zat warnanya terletak pada biji buah dan dapat diambil menggunakan proses ekstraksi. Zat warna yang terkandung di dalam tumbuhan bixa orellana berdasarkan struktur kimia nya bernama bixin, berwarna oranye.

Bixa Orellana is one of the plants used for natural coloring, it came from its seed which is absorbed by extraction to create an orange color.
Kulit Buah Jalawe
Kulit buah jalawe (Terminalia chebula) adalah salah satu bahan perwarna untuk batik warna alam. Hasil air rebus kulit buah Jalawe akan menghasilkan warna kuning, hitam sampai hijau kecoklatan dan warna emas pada kain sutra.

The skin of Terminalia chebula is one of the natural dye colors for batik. The results of its boiled water will produce a yellow, black, brownish green and golden colors for silk fabrics.
Kulit Pohon Tingi / Ceriops Tagal
Pengambilan zat warna alami dari kulit kayu tingi diperoleh secara langsung dengan ekstraksi untuk mendapatkan warna merah muda, coklat kemerahan dan coklat tua sebagai pewarna tekstil.

Extraction is used on Ceriops Tagal to obtain the pink, reddish brown and dark brown as part of natural dye colors
Kulit Kayu Mahoni /
Swietenia Macrophylla King
Kulit kayu mahoni untuk menghasilkan warna merah bata, merah maroon dan coklat tanah. Untuk menghasilkan warna alami ini, diperlukan waktu perebusan minimal tiga hingga sembilan jam. Sementara untuk memunculkan warna, sebuah kain harus dicelup minimal sepuluh hingga sampai tiga puluh kali.

Mahogany bark is used to produce carmine, maroon and dark brown colors by boiling it for 3-9 hours and to make the color to be visible on the fabric, it has to be dyed for 10-30 times.
Kulit Kayu Tegeran /
Cudraina Javanensis
Kulit Kayu Tegeran menghasilkan warna kuning, coklat dan hitam. Warna dihasilkan dari kulit kayu yang direbus selama 3-6 jam sampai zat warna keluar. Air yang sudah mengandung zat warna dari kayu, didinginkan dan sudah bisa dipakai untuk proses pencelupan. Kain dicelupkan kemudian diangin-anginkan. Hasil celupan pertama belum menghasilkan warna yang kuat dan memperlukan proses pencelupan lebih dari lima kali, hingga warna terlihat lebih kuat.

Tegeran bark is used to obtain yellow, brown and black color and it has to be boiled for 3-6 hours until it creates the color that we wished. Later on, the fabric can be dyed with the natural color and it will require around 5 times of dying to create intense color.
KITA HANYA MENGGUNAKAN PEWARNA ALAMI UNTUK PROSES PEWARNAAN
Proses pewarnaan dengan bahan yang natural dapat dilakukan tanpa menggunakan sarung tangan karena aman dan tidak memiliki campuran zat kimia.

Pewarnaan pada kain diperkuat dengan proses pengikatan warna disebut dengan "fiksasi". Jenis bahan fiksasi ada tiga, yaitu:
Kapur : Warna muda atau terang
Tawas : Warna tua
Tunjung : Warna gelap
We Only Use Natural Material For Coloring Process
The coloring process by natural ingredients can be done without using gloves as because it is safe and has no chemical substances. Therefore, the dying process has to be assisted with another process called fixation. There are three fixation materials:
Lime : Bright color
Tawas : Darkened color
Tunjung : Dark color
';
THE FINAL PROCESS - NGELOROT
Ngelorot sebagai bagian terakhir adalah proses perebusan kain dengan air bersih yang berfungsi untuk melepaskan malam dari kain. Setelah malam lepas, kain dijemur dan diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung.
Ngelorot is the final process of boiling the fabric with clean water to remove the wax. Once it is done, the fabric will have to be dried in shade to avoid direct sunlight.
PEWANGI ALAMI / NATURAL FRAGRANCE
Rumput akar wangi /
Vetiveria zizanioides
Rumput akar wangi adalah jenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian. Akar yang dikeringkan secara tradisional dikenal sebagai pengharum lemari pakaian atau barang-barang penting, seperti batik dan keris. Aroma wangi berasal dari minyak atsiri yang dihasilkan pada bagian akar.

The Vetiveria Zizanioides is a type of grass that originated from India. This plant can grow throughout the year, and has been known as a source of natural fragrance for wardrobe, Batik and Keris (Javanese dagger). The natural scent comes from its root essential oil.
Tumbuhan Tarum /
Indigofera tinctoria
Tarum adalah spesies tanaman dari keluarga kacang yang berperan sebagai salah satu sumber warna indigo. Ini diperoleh dari pengolahan daun tanaman yang dipanen dan direndam dalam air kemudian difermentasi dalam waktu kurang lebih 24 jam untuk kemudian dicampur dengan bubuk kapur.

Indigofera tinctoria is a plant from Arachis Hypogaea that was known as one of the original sources for indigo color. It is obtained by harvesting the leaves to be soaked in water in order to be fermented around 24 hours as it will be mixed with lime powder afterwards.
HOME
THE STORY
COLLECTION
CONTACT
HOW TO ORDER
CARE INSTRUCTION
Website | By Kibo creative
Copyright @2020 Kaind
Follow Us :